Rabu, 11 November 2009

DONASI UNTUK CHLDREN CRISIS CENTRE, SUMBAR, 31 Oktober 2009

Total dana yang terkumpul hingga 11 Oktober 2009, adalah Rp. 25.295.000. Pndapatan donasi 12 hingga 31 Oktober 2009, adalah:
24. Ayu, Rp 50.000
25. Emrizal Amir, PT Indosat, Jakpusat Rp. 50.000
26. Kurniawati , Taman Anggrek, Bekasi Rp 1.000.000
27. Donatur via Agusri Said Rp 360.000
28. Elly Tanjung Pinang, Via H.Taufik Rp 1.000.000
29. Widiastuti, PT Indosat, Jakpusat Rp 1.000.000
30. Abu Yamin, Jaksel Rp 250.000
31. Bastian, Matue Saiyo, Jakarta Rp.1.000.000

Dana yang terkumpul, 12 hingga 31 Oktober 2009, Rp. 4.710.000,-, Keseluruhan dana yang terkumpul hingga 31 Oktober 2009 adalah Rp. 30.005.000

DONASI UNTUK CHLDREN CRISIS CENTRE, SUMBAR, 11 Oktober 2009

Saldo hingga 8 Oktober 2009, Rp 10.400.000
Penerimaan donasi dan bantuan lain, hingga 11 Oktober 2009, adalah:
11. Budi Agung PRabowo, PT Ericson, Jaksel, Rp. 500.000
12. Niken,Klaten, Rp 100.000
13. Yayasan BMS Satu Init Komputer (Monitorr,CPU, dll)
14. Husin,Komplek SPS Puri Indah, 2 Unit panel listrik dan 2 kabel rol
15. Karyawan PT. Ericson, Jaksel Rp 1.500.000
16. Nani Budiningsih,PT.Indosat, Jakpusat Rp.100.000
17. Donatur via Agusri Said Rp. 1.445.000
18. Jamaah Pengajian Insan Kamil,Puri Indah,Jakbar Rp 1.500.000
19. Endang, TK Kembangan, Rp 150.000
20. BMT Ibaadurrahman, Ciawi Bogor, Rp 1000.000
21. Hj.Yulinar Ismail, Puri Indah, Rp 2.100.000
22. Donatur sekitar Bogor-Ciawi, via M Rony Rp 6.000.000
23. Karyawan PT Siemens, Pulomas, Rp 500.000

Penerimaan 9 hingga 11 Oktoberr 2009, Rp. 14.445.000 .Total donasi yang diterima hingga 11 Oktober 2009 adalah : Rp. 24.885.000

DONASI UNTUK CHLDREN CRISIS CENTRE, SUMBAR, 8 Oktober 2009

Sumbangan dan dukungan dana tunai dan dan dalam bentuk barang, untuk kegiatan Children Crisis Centre akibat gempa di Sumatera Barat, hingga 8 Oktober 2009, adalah:
1. Drs. H.Albazar MM, Rp 2.500.000,
2. SiswantoIP.LPPSE,Jaksel, Rp 1.200.000
3. Arisan Rumah Batu JKT, Lawang, Matur, Rp. 1.000.000
4. Diva Mulia MM,Kemang Pratama, Rp 2.500.000
5. Koperasi Syari'ah Al Inayah, Jakarta Rp 1.000.000
6. Hj. Ermawati, TK Salman, Ciputat Rp.1000.000
7. Richard Beresford, Microaid, Banda Aceh, Rp.1000.000
8. Diyah Maulana, Puri Indah, Jakbar Rp 200.000

Total Rp 10.400.000,-

RENCANA AKSI, LAYANAN ANAK AKIBAT GEMPA



Musibah Gempa


Gempa Bumi terjadi di Pariaman Provinsi Sumatera Barat dengan kekuatan 7.6 SR yang berpusat di laut dengan kedalaman 71 KM. Gempa Bumi terasa sampai ke negara tetangga seperti Malaysia, dirasakan akibatnya di kota Medan, Aceh, Palembang, Jambi dan Pekanbaru. Gempa yang terjadi 30 September 2009, jam 17.16 itu telah mengakibatkan hancurnya perumahan, fasilitas umum, kantor pemerintahan dan fasilitas ekonomi.
Hingga 1 Oktober 2009, pagi tercatat lebih 100 orang yang meningal dunia dan sebagian besar korban masih dalam pencarian di reruntuhan gedung, dan bangunan bangunan di wilayah gempa.

Akibat Bagi Anak AnakKehilangan anggota keluarga, kerabat, teman, ataupun harta dapat menyebabkan munculnya Post Traumatic Stress Disorder (PTSD-gangguan stress pasca trauma). Masalah kesehatan jiwa ini tentunya harus segera diatasi sedini mungkin, sebelum penderitanya mengalami gangguan jiwa yang lebih parah. Karena kejadian (gempa dll) dialami dan disaksikan sendiri oleh para korban ketika bencana terjadi. Tentu saja, ini akan menciptakan kepanikan yang hebat, kecemasan yang mendalam, mimpi buruk dan perasaan tertekan.

Tujuan
Memberikan pertolongan pertama (emergency) pada anak anak untuk mencoba mengurangi akibat gempa, baik berupa gangguan psychis dan behavior pada anak anak yang menderita PTSD.

Prinsip
Kegiatan ini akan dilaksanakan dengan pijakan lima prinsip, yakni penanganan dini, membangun kemandirian, mobilitas. penanganan multi aspek dan terkoordinasi.

Pokok Kegiatan
Fokus kegiatan ini adalah untuk penanggulangan trauma dan depresi disebabkan oleh gempa yang terjadi pada anak-anak., yakni:
· Melaksanakan berbagai kegiatan art therapy (melukis, menggambar, mencipta puisi)
· Menyediakan bahan bacaan edukatif (buku cerita, majalah dll)
· Melaksanakan cognitive therapy (olah raga, group support dll)
· Melaksanakan expressive therapy (menulis, menyanyi, menari, permainan).
· Memberikan hiburan yang bersifat edukatif (pemutaran video, game dll)

Sumber Dan Pembiayaan
Sumber pendanaan dan bantuan diperoleh dari :
· Dari kalangan perantau yang berada di wilayah Jabodetabek
· Dari Kalangan Perusahaan yang peduli
· Dari Kalangan Lembaga Dalam dan Luar Negeri
· Dari Pemerintah Pusat/Daerah

Pengeluaran biaya diupayakan se-efesien dan se-efektif mungkin. Pos biaya untuk perlengkapan, media dan operasional dikeluarkan sesuai dengan kebutuhan riil.

Sesuai dengan benntuk kegiatan emergency, biaya personil hanya sebatas untuk transportasi, akomodasi, kosumsi, kesehatan dan asuransi Kegiatan ini belum mampu memberikan honor kepada Tim dan relawan yang ikut serta.

Waktu
Sejalan dengan prinsip CCC yang dikemukakan diatas, maka kegiatan TahapI, akan berlangsung selama 2 bulan (emergency periode), terhitung sejak Mingu II Oktober hingga Minggu I Desember 2009. Kegiatan lanjutan akan dilakukan berdasarkan evaluasi yang akan dilakukan dengan berbagai pihak pada akhir bulan November 2009.

Akuntabilitas
Semua dukungan yang diterima akan dikelola secara professional dan transparan. Semua pihak yang memberikan dukungan akan memperoleh laporan keuangan dan kegiatan yang dilakukan. Semua laporan tersebut akan dimuat dalam situs http://www.bmsfoundation.blogspot.com/ dan http://www.pedulianjal.blogspot.com/

Tim Kerja dan Relawan
Tim Kerja terdiri dari empat orang yaitu Penanggung Jawab dan Koordinator untuk tiga titik CCC, masing masing selama 2 bulan. Fasilitas bagi Tim kerja adalah akomodasi, transport Jakarta-Padang Pulang Pergi, dan kesehatan.

Tim Inti didukung oleh 9 relawan yang berasal dari lokasi program, masing masing 3 orang untuk tiap titik CCC. Mereka akan diberikan fasilitas transport, asuransi, akomodasi, dan konsumsi selama kegiatan berlangsung.

Selain itu kegiatan ini didukung pula oleh Tim Penggalangan Dana di Jakarta dan sekitarnya yang bergerak sesuai dengan permintaan dan kebutuhan CCC di Kota Padang dan Pariaman.

Penasihat : Ir. H. Januar Muin
Pen.Jawab : H. Muchtar Bahar
Penggalangan Dana: H. Drs. Farhan Datuk Bagindo, Drs. H. M.Yusuf Sisus, Hj. Dra. Suharti Muchtar MM, Siswanto Imam Prabowo, SE, Drs. Hasynim Fadly Hasan,Msi, Hj. Yulinar Ismail dan dibantu oleh relawan lain yang berminat.

Fasilitator Lapangan:
Ir. H. Taufik Bey, Drs. H. Agusri Said ,
H. Lahmudin Noor, Chairil Anwar Tanjung, M Rony, Imran Sidik, Ersa Mardiah serta didukung oleh relawan 9 orang, dari Jakarta dan Sumbar.

Rekening Bank
Rekening Bank bersama untuk kegiatan ini :
Yayasan Bina Masyarakat Sejahtera (BMS)
Bank Mandiri cabang Mabes POLRI
Nomor Rekening, 126-000-5246201
Atas nama: Yayasan Bina Masyarakat Sejahtera (BMS)

Sekretariat

Sekretariat Bersama di Padang
Jl. Prof.DR. Hamka No 268,Padang Sumatera Barat

Yayasan BMS
Jl. Meruya Selatan No. 10, Kelurahan Meruya Utara, Kecamatan Kembangan, Jakarta, 11650. Telp 021-58904105
E-mail: binasentra@excite.com-pkbm_bms@yahoo.com
www.bmsfoundation.blogspot.com

IKBAL AMM SUMBAR JAYA
Jl. Jati Raya Rawamangun, Jakarta Timur, Jakarta
Telp/Fax: 021- 4896468

HENTIKAN PEKERJA ANAK

Plaza Selatan Gelora Bung Karno, Jakarta tidak seperti biasanya, lebih 2000 anak berkumpul dengan warna t-shirt merah, kuning, hijau dan putih. Hari itu 21 Juni 2009, berlangsung peringatan hari anak dengan tema " Berikan Kesempatan bagi Anak perempuan dan Stop Pekerja Anak". Larut dalam ribua anak anak, mahasiswa dan pihak yang peduli, adalah 150 anak anak yang didampingi oleh Yayasan Bina Masyarakat Sejahtera (BMS) dan Yayasan Sekar.

Anak anak sejam jam 07.00 telah berkumpul di halaman Departemen Pendidikan Nasional dan mengikuti pelepasan pawai menuju Plaza Selatan gelora Bung Karno untuk selanjutnya mengikuti berbagai acara puncak. Selain sambutan dari ILO, Diknas dan Jarak, acara kali ini dimeriahkan dengan berbagai simulasi dan permainan berkelompok, pergelaran seni, dialog dan juga pembacaan puisi serta penandatangananan prasasti bersama.

"Kami tidak ingin bekerja, kami ingin belajar dan bermain " salah satu baris puisi yang dibacakan oleh Ayu, bekas pekerja anak diharapkan semakin memperkuat berbagai upaya agar anak anak diberikan haknya. Sebuah harapan maasa depan dengan akses atas pendidikan, memberikan hak hak anak dan menghapus pekerka anak".

Simbol perjuangan bagi hak anak tahun ini digambarkan dalam sebuah kincir angin dengan lima warna, dengan makna tidak henti berputar melawan angin penindasan, gambaran dari lima benua dengan tujuan yang sama.

Sabtu, 07 November 2009

AYO BELAJAR

Belajar Seumur Hidup " Long Life Education " kembali menjadi tema sentral dalam diskusi dan forum pameran yang digelar oleh World Vision Indonesia (WVI) di Tim bulan April 2009 yang lalu. Dalam ajang ini sejumlah pakar dan penjabat pemerintah menekankan pentingnya proses belajar seumur hidup dengan pijakan " Education for All ".

Dalam kegiatan "Pekan Aksi Global Untuk Pendidikan" tersebut DR.Gautama dari Diknas, Dr.Ing Budi Dharma, Praktisi PKBM dari ITB, Pengamat pendidikan Darmanintyas, dan nara sumber dari WVI membagi pengalaman. Pameran dari berbagai lembaga dan pementasan melengkapi acara ini.

Penekanan pembahasan ditujukan pada jalur pendidikan informal dan nonformal yang sangat mungkin di jangkau oleh masyarakat tanpa sekat usia dan wilayah tinggal. WVI mencatat satu juta anak rentang usia 7-15 tahun (SD dan SMP) tiap tahun putus sekolah dengan berbagai alasan, seperti tidak punya biaya, lokasi sekolah lanjutan jauh, terbatasnya transportasi, terpaksa bekerja membantu keluarga dan sebab lain. DR. Gautama menegaskan bahwa pendidikan informal dan non formal sebagai salah satu upaya strategis menghadapi persoatan tersebut.

Kondisi itu semakin memacu Yayaan Bina Masyarakat Sejahtera (BMS) untuk melelembagakan kegiatan pendidikan informal yang telah dirintis sejak 13 tahun yang lalu. Yayasan BMS telah memulai pendirian Taman Bacaan anak dengan Gerakan Infak Buku, bimbingan pendidikan kesetaraan bagi anak jalanan, dukungan beasiswa, pembekalan ketrampilan produktif dan berbagai kegiatan lain.

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat BMS (PKBM BMS) berlokasi di Kantor Yayasan BMS di Meruya Slatan No 10, jakarta Barat. 11620, email pkbm_bms@yahoo.com

Selasa, 25 Agustus 2009

“ Setengah Hati” Kebijakan Pengurangan Pekerja Anak

Disadari bahwa kebijakan tentang pencegahan dan perlindungan pekerja anak telah cukup lama di terima oleh pemerintah Indonesia, terlihat dalam UU RI No 20 tahun 1999 dan UU RI No 1 tahun 2000 berpijak pada konvensi ILO No. 138 dan No 182, mengenai pekerjaan terburuk bagi anak dan batas usia anak yang diperbolehkan bekerja.


Namun dalam realitas nya, secara kuantitas dan kualitas jumlah anak yang bekerja dan terpaksa bekerja tidaklah semakin berkurang. Dalam diskusi tentang fenomena ini di Jarak, 21 Mei 2099 yang lalu, terkuak berbagai isu yang cukup pelik, seperti.


Pertama, Pemerintah Indonesia masih belum tegas tentang batas usia anak yang diperbolehkan bekerja.

Kedua, pandangan yang keliru tentang anak.anak dianggap “asset” ekonomi dan terutama anak perempuan seperti yang ditemukan di wilayah Indramayu. Anak perempuan akan mendatangkan rezeki bagi keluarga, tanpa memikirkan jenis pekerjaan anak, usia dan resikonya.


Ketiga, Intensifnya para makelar pencari PRT dan TKW dengan iming iming kehidupan yang lebih layak, pengalaman bekerja di luar negeri di erkotaan, dengan memberikan contoh nyata di lingkungannya semabagi pemacu


Keempat, Belum banyak contoh sukses tentang perlindungan terhadap pekerja anak dibandingkan dengan keberhasilan yang “sumir” sebagai PRT, sek komersial, pekerjaan bersiko tinggi lainnya


Kelima, pemerintah daerah tidak cukup peduli untuk melakukan pencegahan dan perlindungan terhadap pekerja anak. Terlihat nyata dari kebijakan yang belum tegas dan minimal nya alokasi APBD untuk program aksi.


Keenam, upaya advokasi oleh kalangan LSM dan juga jaringan pekerja anak, belum mampu mengugah perhatian pemerintah.


Ketujuh, semakin urgen untuk melakukan pengentasan kemiskinan segera, karena akar utama dari semakin banyaknya pekerja anak adalah kemiskinan.

Diskusi terbatas yang dipandu oleh Ibu Aida Milasari dari Rumpun Perempuan ini memerlukan gerak lanjutan. Peserta diskusi dari berbagai LSM seperti Yayasan Sekolah Rakyat, Institus Kemandirian Indonesia, Yayasan Bina Masyarakat Sejahtera, Yayasan Rumah Kita, Yayasan Sekam, YKAI, PKBI, Griya Rumpun, Yayasan Dinamika dan Jarak, sepakat untuk melakukan peningkatan kualitas dan lingkup program dan penguatan jaringan untuk advokasi memperjuangkan hak anak (Muchtar Bahar)